Oleh : Andhika Patrio Purba
Agenda pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah berlangsung pada 25 September 2019. Ada 50 orang anggota dewan yang dilantik dengan 22 orang adalah petahanan dan 28 adalah wajah baru. Dengan dilantiknya mereka, maka pesta demokrasi 2019 telah resmi selesai. kita berharap Simalungun makin maju, semoga!
Agenda pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah berlangsung pada 25 September 2019. Ada 50 orang anggota dewan yang dilantik dengan 22 orang adalah petahanan dan 28 adalah wajah baru. Dengan dilantiknya mereka, maka pesta demokrasi 2019 telah resmi selesai. kita berharap Simalungun makin maju, semoga!
Sejalan dengan
harapan itu, pertengahan 2020 mendatang Kabupaten
Simalungun akan kembali melaksanakan
perhelatan demokrasi. pemilihan Kepala daerah akan menjadi agenda pada pesta
kali inii. setelah 10 tahun belakang tampuk kekuasaan dipegang oleh bapak
Jopinus Ramli Saragih (JR Saragih) maka dipastikan bupati Simalungun periode 2020-2025 bukan beliau lagi. Sebab
UU No 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah Pasal 60 menyatakan :
"Masa jabatan
kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) adalah selama 5
(lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali
dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan."
Sejalan dengan itu
,sudah barang tentu banyak kemudian orang-orang yang mencalonkan diri dan
dicalonkan oleh orang/kelompok tertentu untuk menjadi pengganti bapak JR
Saragih. Sejauh ini, sepengamatan yang dilakukan penulis ada beberapa nama yang
bersileweran di media massa dan media sosial yang menampakkan itikadnya menjadi
bakal calon bupati, seperti :
-Wagner Damanik
(Petinggi Kepolisian)
-Waston Purba
(Wadan Rindam)
-Gideon Purba
(Sekda Simalungun)
-Radiapo Sinaga
(Pengusaha Asal Tiga Runggu)
-Tumbur Napitupulu
(Pengusaha)
- Amran Sinaga
(wakil bupati simalungun)
- Risben N Tambun
Saribu (anggota DPRD Riau
Nama- nama ini
bisa jadi bertambah mengingat pendaftaran calon bupati 2020 masih menyisakan
beberapa bulan lagi. Dari 7 bakal calon, 6 diantaranya adalah bermarga suku Simalungun dan satu diataranya adalah bermarga suku Toba. Berkaca pada kebiasaan indonesia khususnya
Simalungun, sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam menggunakan hak demokrasi,
masih banyak yang menggunakan paham rasis. Bisa jadi memilih seseorang karena
semarga, sekampung, satu gereja, se-agama, dan satu-satu lainnya yang
menghubungkan kita dengan mereka. hal ini bisa kita temukan dari
percakapan-percakapan sehari-hari, baik di warung kopi, ruang diskusi ataupun
tempat-tempat yang membahas isu politik.
Jika berselancar
di internet, terutama media sosial facebook, hingga hari ini sudah banyak
bakal/calon yang memiliki fanspage pendukung. Tidak hanya itu orang-orang (saya
anggap sudah jadi TS) yang dikatakan dekat
dengan masing-masing calon, bahkan memaparkan bahwa mereka adalah orang yang
layak menduduki kursi tertinggi di Simalungun.
Postingan-postingan
yang baik tentang balon digencarkan. layaknya buzzer, mereka bekerja siang dan
malam. Update sana-sini, kabarkan yang baik, jauhkan yang buruk. Informasi
didesain sedemikian rupa seolah bakal calon tidak memiliki kekurangan. Dia
adalah yang paling pantas. Kira-kira begitu slogannya. Meski demikian, walau
dikabarkan yang baik-baiknya, ada saja bahkan
tak sedikit pula yang mengomentari dengan kata-kata kasar, menjatuhkan
calon, menegejek dan bahkan mengungkap keburukan dari masing-masing calon. Hal
ini boleh jadi dari pendukung calon lain, boleh pula dari masyarakat yang
pernah tersakiti hatinya oleh bakal calon.
Dari sekian banyak
komentar, hinaan dan argumen-argumen lainnya, yang paling menarik menurut
penulis adalah :
“Maningun Marga
Simalungun Do Sijolom Suhul i Tanoh Simalungun!"
Perkataan ini
sungguh menarik, apakah benar harus orang Simalungun
yang menjadi pimpinan di Simalungun?
Jika iya, maka apakah selain marga simalungun tak punya kesempatan untuk jadi
pemimpin di Simalungun?
Referensi
https://lintangnews.com/tumbur-napitupulu-pulang-kampung-ingin-jadi-balon-bupati-simalungun-2020/
Facebook.com
https://m.potretnews.com/artikel/nusantara/2019/04/12/figur-bakal-calon-bupati-simalungun-dan-wali-kota-pematangsiantar-mulaia-diperbincangkan
Komentar
Posting Komentar