HIOU SIMALUNGUN
Oleh: Finy Annie Mara Purba
Pada masyarakat Simalungun, terdapat salah satu jenis folklor yang disebut tenunan rakyat yang digunakan sebagai alat kelengkapan adat, pakaian sehari-hari yang berfungsi dalam kehidupan masyarakatnya secara turun-temurun dari suatu generasi ke generasi. Sebagaimana didefinisikan Danandjaja, folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat (Danandjaja, 1991 : 1-2).
Dalam bahasa Simalungun tenunan rakyat disebut hiou. Hiou dibuat oleh masyarakat Simalungun sendiri dengan alat tenun terbuat dari kayu dan bahan baku benang diolah dari kapas yang tumbuh di daerahnya sendiri. Sebagaimana ciri-ciri folklor pada umumnya (lihat Danandjaja, 1991:3-5), maka hiou Simalungun sedikitnya memiliki enam ciri yaitu :
1. Penyebaran hiou Simalungun biasanya dilakukan secara lisan (tradisi lisan).
2. Bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
3. Hiou Simalungun ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda-beda.
4. Hiou Simalungun bersifat anonim, artinya nama. penciptanya tidak diketahui orang lagi.
5. Hiou Simalungun mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif.
6. Hiou Simalungun adalah milik bersama dari suatu kolektif
Mengingat adanya tujuh wilayah kerajaan di Simalungun, masing-masing kerajaan mempunyai ciri-ciri dan jenis hiou yang digunakan. Ada jenis hiou yang tidak terdapat di satu wilayah kerajaan dan tidak dikenal sama sekali. Berdasarkan hasil penelitian penulis di lapangan, maka sedikitnya ada 24 jenis hiou yang digunakan oleh masyarakat Simalungun antara lain :
1. Hiou Ragi Idup 2. Hiou Ragi Sapot 3.Hiou Ragi Panei
4. Hiou Ragi Santik 5. Hiou Ragi Siantar 6. Hiou Ragi Tinabur
7. Hiou Ragi Ambasang 8. Hiou Ragi Sidosdos 9. Hiou Ragi Sappu Borna
10. Hiou Hatirongga 11. Hiou Tapak Catur 12. Hiou Padang Rusa (k)
13. Hiou Ipput ni Hirik 14. Hiou Jungga 15. Hiou Nanggar Suasah
16. Hiou Bittang Maratur 17. Hiou Simakkat-angkat 18. Hiou Batu Jala
19. Hiou Tappunei 20. Hiou Sitolun Tuho 21. Hiou Mangiring
22. Hiou Bulang-bulang 23. Hiou Gobar 24. Hiou Sibolang
Dalam kehidupan sehari-hari, hiou digunakan untuk pakaian sehari-hari, pakaian adat, pakaian kebesaran, dan pakaian dalam kontek seni pertunjukan. Pada acara adat perkawinan, pihak pengantin pria selalu menggunakan pakaian lengkap yang terbuat dari hiou, mulai dari penutup kepala, badan dan selendang. Pihak pengantin wanita juga menggunakan pakaian lengkap kecuali penutup kepala tidak digunakan – sebagai pembeda pihak pengantin pria dan pihak pengantin wanita. Adapun jenis hiou yang digunakan untuk kaum pria adalah hiou suri-suri nanggar suasah atau yang lain wanra hitam/gelap sebagai selendang, hiou ragi pane/ragi santik sebagai abit (kain yang disarungkan sebatas pinggang), sedangkan penutup kepala terbuat dari kain batik yang disebut gotong. Untuk wanita atau kaum ibu menggunakan hiou bulang sebagai penutup kepala, hiou suri-suri sebagai selendang (setiap orang bebas memilih warna disesuaikan dengan warna pakaian) dan hiou hatirongga/hiou tapak catur atau yang lainnya digunakan untuk abit (kain yang disarungkan).
Pada acara adat perkawinan, orang tua pengantin pria mangusei (memasangkan seperangkat pakaian adat kepada pengantin pria dan wanita) beserta aseorisnya. Pihak pengantin wanita memberikan kado seperangkat pakaian adat perkawinan berupa hiou sebagai penutup kepala, penutup badan dan selendang, demikian juga keluarga yang hadir memberikan hiou kepada pengantin dan kepada orang tua pengantin pria. Adapun jenis hiou yang diberikan : gotong sebagai penutup kepala kepada pengantin pria, hiou bulang sebagai penutup kepala kepada pengantin wanita. Hiou suri-suri nanggar suasah kepada pengantin pria, hiou suri-suri dengan warna bebas kepada pengantin wanita. Hiou ragi pane/ragi santik kepada pengantin pria dan hiou hatirongga kepada pengantin wanita.
Pada upacara kematian sayurmatua (kematian usia lanjut) semua pihak suhut (keluarga yang berduka) menggunakan hiou sebagai penutup kepala, badan dan selendang. Khusus kepada kaum pria ditambah dengan sehelai kain putih diikatkan sebagai penutup kepala yang disebut porsa.
Pada upacara kematian sayurmatua (jika ada seorang meninggal pada usia uzur dan telah mempunyai cucu dari anak laki-laki maupun dari anak perempuan) maka pihak Tondong (saudara laki-laki dari istri) memberikan hiou kepada istri yang meninggal, namanya hiou tujung/hiou balu. Artinya bahwa dia (wanita yang ditinggal suami) telah hidup sendiri oleh karena suaminya telah meninggal dunia yang fungsinya adalah memberikan ketenangan/kedamaian kepada si istri bahwa pihak tondong tetap memperhatikannya. Kemudian pihak tondong juga memberikan hiou parsittikan, diberikan di atas mayat orang tua mereka yang meninngal. Namun pihak keluarga tidak rela hiou parsittikan tersebut diberikan kepada yang mninnggal. Ketika pihak tondong memberikan hiou tersebut, secara sepontan anak-anak yang meninggal tersebut menjulurkan kepalanya agar tidak jadi hiou tersebut diberikan kepada orang tua mereka. Fungsi dari hiou parsittikan tersebut adalah sebagai ucapan selamat jalan dan sebagai perpisahan terakhir dari pihak tondong, namun fungsinya berubah, tidak ada lagi perpisahan dan tetap terjalin hubungan kekeluargaan.
Penggunaan hiou dalam seni pertunjukan Simalungun pada umumnya sama seperti penggunaan hiou pada acara adat perkawinan Simalungun. Adapun membedakannya adalah disesuaikan dengan jenis pertunjukan yang dilaksanakan. Hiou juga digunakan oleh pemain musik gonrangsipitu-pitu/gonrang bolon. Biasanya pemain musiknya adalah pria menggunakan gotong sebagai penutup kepala, suri-suri warna hitam sebagai selendang dan ragi pane/ragi santik sebagai abit (sarung). Adapun fungsi hiou yang digunakan pemain musik ini adalah sebagai pengungkapan estetika dan sebagai penanda identitas Simalungun
Eksistensi penggunaan hiou sangatlah tinggi dan berfungsi bagi masyarakat pendukungnya. Hiou digunakan untuk pakaian sehari-hari, pakaian adat, dan pakaian dalam kontek seni pertunjukan. Pada acara perkawinan, pihak pengantin pria selalu menggunakan pakaian lengkap yang terbuat dari hiou, mulai dari penutup kepala, badan dan selendang. Pihak pengantin wanita juga menggunakan pakaian lengkap kecuali penutup kepala (tidak digunakan) – sebagai pembeda pihak pengantin pria dan pihak pengantin wanita. Demikian juga pada acara kematian sayurmatua (kematian usia lanjut) semua pihak suhut (keluarga yang berduka) menggunakan hiou sebagai penutup kepala, badan dan selendang.
Penenun hiou di daerah Simalungun sudah sedikit dan hiou Simalungun banyak didatangkan dari luar Simalungun dengan berbagai corak dan warna yang baru sesuai dengan selera pasar. Kiranya tetap mencintai hiou dan tetap menggunakan pakaian adat Simalungun dengan bak dan benar
Komentar
Posting Komentar