Langsung ke konten utama

Ahap Simalungun Sebagai Landasan Berorganisasi di IMAS-USU

Eksistensi organisasi kedaerahan kian tergerus ditengah perkembangan zaman yang semakin membawa orang menjadi individual, apatis, hanya mementingkan diri nya sendiri. Eksistensi yang dimaksud termasuk di kalangan mahasiswa yang notabene mahasiswa di gadang gadang sebagai Agent of Change untuk masyarakat dimana ia akan tinggal atau di tengah masyarakat tanah kelahirannya. Kepedulian tersebut tidak tumbuh dengan sendirinya tanpa kita berbuat apa apa , seharusnya kita sebagai generasi muda yang intelek memikirkan apa apa yang bisa membuat kita berkembang namun tidak berarti abai terhadap kepedulian lingkungan sekitar.

Muda dan berbudaya menjadi salah satu tagline yang membuat saya sebagai penulis tertarik selama saya menjalani aktivitas perkuliahan . Pada umumnya budaya selalu di konstruksikan kaum milenial dengan sesuatu yang kuno, kolot, sehingga tidak sedikit kaum muda yang kian melupakan budaya sehingga menyebabkan eksistensi dari satu budaya kian menjadi menurun dan hampir punah terlupakan. Tetapi bukan simalungun hehe… Namun saya tidak ingin membahas panjang dan lebih dalam tentang budaya yang saya maksud pada saat ini , mungkin kita bisa bertemu pada kesempatan berikutnya. Lantas bagaimana tujuan dan manfaat budaya simalungun terhadap landasan berorganisasi kita terkhusus di IMAS- USU sendiri?

Saya ingin kita bertolak dari apa itu organisasi? Untuk apa kita berorganisasi? Dan apa manfaat nya ? menurut Max Weber , organisasi merupakan kerangka hubungan sosial yang sifatnya terstruktur, dimana didalamnya tercantum apa yang menjadi wewenang, pembagian tugas/ kerja dan tanggung jawab untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Lebih jelas lagi di terangkan menurut Soerjono Soekanto , organisasi sosial adalah kesatuan hidup atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi tetap sebagai suatu asosiasi. Nah mudah mudahan dengan penjelasan pengertian organisasi menurut 2 ahli sosial tadi menimbulkan pertanyaan baru terhadap 2 pertanyaan yang belum terjawab diatas.

Simalungun adalah suatu kesatuan teritorial yang di kelola oleh pemerintah kabupaten Simalungun . Sekilas tentang Simalungun, kata “ Simalungun” memiliki makna ganda, yaitu bisa di kategorikan terhadap satu kesatuan wilayah pemerintahan, dan bisa di kategorikan sebagai satu kesatuan kesukuan yaitu Suku bangsa Simalungun . Di kabupaten simalungun, masyarakat terdiri dari beragam suku dan agama dan di dominasi oleh suku melayu , batak toba, dan di ikuti suku asli bermarga simalungun yang tersebar di 4. 386,60 Km2. Namun penggolongan suku asli dan suku pendatang di simalungun mulai berkurang sejak Seminar Kebudayaan Simalungun I Tahun 1964 yang salah satu keputusannya adalah “ Marga- marga Simalungun adalah suatu rangkaian dari kerangka bangsa Indonesai. Orang Simalungun adalah mereka yang merasa dan mengaku dirinya orang simalungun serta memperlakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan di dalam hidupnya yang senantiasa dijiwai semangat Bhinneka Tunggal Ika”.

Mengacu pada keputusan Seminar Kebudayaan Simalungun I pada Tahun 1964, kebudaya tidak hanya sebatas seni, kekayaan artistik, pertunjukan tari, peninggalan, nyanyian, seni ukir dan yang lainnya. Namun lebih dalam lagi pengertian budaya itu adalah segala sesuatu yang menjadi kebiasaan masyarakat simalungun , atau nilai nilai luhur berupa falsafah yang tertanam secara tidak di sadari pada masyarakat simalungun . apa itu ?

Habonaron do Bona

Mungkin kita tidak familiar lagi mendengar kata Habonaron Do Bona. Secara harafiah, Habonaron Do Bona bisa kita artikan “kebenaran adalah pokok”. penggalan kalimat tersebut memiliki makna yang sangat dalam dan sangat luas dan menginterpretasikan kehidupan bangsa Simalungun sendiri. Mengapa demikian? Jika di perinci, “ Kebenaran” itu tampak nyata dalam :

1. Berpandangan Benar

2. Berniat Benar

3. Berbicara benar

4. Bertindak Benar

5. Berpenghidupan Benar

6. Barusaha Benar

Bona adalah pokok dalam arti ini adalah lebih dari sekedar batang , atau sebagai mana bona pada umumnya pada kehidupan kita sehari hari. Lebih jauh lagi bona diartikan sebagai hubungan vertikal antara manusia dengan “ilahi” atau Naibata . Sehingga di dalam perilaku sehari hari orang Simalungun lebih memikirkan dampak perbuatannya terhadap pedoman habonaron ( hubungan vertikal) daripada hubungan dengan sesama ( horizontal) artinya jika dalam suatu masalah kita benar, maka tidak lagi yang kita takutkan karena falsafah simalungun menjelaskan bahwa kebenaran adalah hal paling mendasar/ pokok/substantif.

Menurut Letkol Purn. MD Purba dalam buku lintasan Sejarah Kebudayaan Simalungun (1986) menulis, petuah “ Habonaron Do Bona” Telah dihayati masyarakat yang mendiami daerah Simalungun sejak lama, sehingga pada masa itu tidak pernah terjadi pencurian, penipuan, dusta, dan perilaku bejat lainnya sebab semua penduduk setempat berusaha hidup benar dan berlaku jujur demi kepentingan bersama. Dusta, mencuri, menipu, dan perbuatan buruk lainnya dianggap sebagai perbuatan rendah dan hina

Selain dari itu Imelda Mayestika purba ( 2009) juga berpendapat bahwa ajaran “Habonaron Do Bona” terdapat kewajiban manusia yaitu :

1. Kewajiban terhadap diri sendiri yaitu seperti jujur trhadap dirinya sendiri, harus tau malu dan tau diri

2. Perintah - perintah dan larangan terhadap kewajiban manusia kepada sesama manusia sebagai berikut :

a. Menghormati orang tua dan orang lain sesuai dengan tata krama

b. Menghormati guru

c. Membantu orang lain

d. Tidak boleh membunuh sesama manusia termasuk mengugurkan kandungan

e. Tidak boleh kawin semarga

f. Tidak boleh membuat oranglain meneteskan airmata sampai “ berwarna kuning”

g. Tidak boleh meminta minta

h. Tidak boleh menyusahkan orang lain

i. Tidak boleh berbohong

j. Tidak boleh memaki orang lain

k. Tidak boleh membungakan uang

l. Tidak boleh menipu dan mengkhianati orang

3. Manusia juga memiliki kewajiban terhadap alam yaitu tidak boleh membunuh tumbuh tumbuhan dan hewan liar secara sembarangan karena perbuatan ini merusak alam.

AHAP SIMALUNGUN

Ahap secara harafiah bisa di artikan sebagai perasaan, kepedulian. “Ahap”menurut saya pribadi lebih jauh lagi di artikan sebagai bagian dari alam bawah sadar yang bentuknya tidak nyata sebagai material, namun ia lebih merujuk ke spiritual dan lebih ke perasaan yang dapat kita rasakan. Menurut Neo Simalungun Jaya : 2011 “AHAP” identik dengan menyatu dengan sifat- sifat manusia universal dan spiritual. Namun ada batasan batasan yang tidak termasuk kedalam penggolongan sifat manuia yang universal dan spiritual :

1. Ke-egoisan 2. Ketamakan 3. Arogansi Kelompok

4. Arogansi Keluarga 5. Arogansi Suku DLL

Ada pula yang merupakan rujukan “ AHAP” pada sifat manusia universal dan Spiritual adalah:

1. Kesadaran 2. Cinta Kasih 3. Kesadaran akan 4. Melampaui ego sentrisme kesatuan manusia sesama manusia dan alamnya.

Di dalam kontek “AHAP” tidak lagi ada keinginan untuk mengkotak- kotakkan manusia yang memiliki latar belakang beragam. Hubungan dengan sesama tidak lagi hanya berdasarkan urusan perut semata, seks/ gender, kenyamanan diri sendiri atau hal hal serupa yang mengarah pada egosentris.

Simalungun merupakan salah satu Sub Etnis suku batak di Sumatera Utara.Simalungun di atas juga di jelaskan sebagai daerah teritorial pemerintahan Kabupaten Simalungun. Lantas apa yang di harapkan dari hasil tulisan ini yang membahas Habonaron Do Bona, Ahap, dan Simalungun dan apa hubungan nya dengan organisasi ini?

TANGGUNG JAWAB IMAS-USU SEBAGAI ORGANISASI SIMALUNGUN SEBAGAI WADAH PENUMBUH AHAP HASIMALUNGUNAN

Sebagai organisasi yang ada di Universitas sumatera Utara dan tetap konsisten menerapkan nilai nilai budaya di dalam organisasi . Ahap Hasimalungunon bisa dikatakan sebagai landasan kenapa IMAS- USU berdiri dan tetap bertahan. Dengan motto Hiranan Hu Tanoh Simalungun yang memiliki arti “ Satu kerinduan ke tanah Simalungun” atau bisa juga di tafsirkan “ satu kerinduan untuk berbuat ke tanah kelahiran Simalungun” IMAS USU kini telah mencatatkan sejarah perjalanan selama 18 tahun pada tanggal 10 November ini .

Ahap yang di miliki oleh IMAS- USU bisa tercermin dari program- program yang telah dilaksanakan dan masi tetap konsisten sampai saat ini. Program program tersebut adalah Pengabdian Masyarakat desa ke 12 di tahun 2019. IPPS ke 20 di tahun 2019, Imas- usu mengajar, Pagelaran seni dan budaya simalungun, Natal di daerah Simalungun . Selain itu, di organisasi ini juga secara tidak langsung menempah kader yang berahap simalungun melalui penerapan nilai- nilai budaya simalungun dalam berorganisasi, menggunakan bahasa Simalungun di beberapa waktu pertemuan rapat selain penggunaan bahasa kesatuan harus tetap di junjung tinggi.

Nah di ujung pembahasan ini saya ingin menyampaikan argumen bahwa Imas Usu sebagai organisasi kedaerahan berbasis Simalungun adalah organisasi yang secara genealogi di dirikan atas landasan Ahap Simalungun. Namun sebagai mahasiswa pernatau yang tinggal di kota medan, memiliki lingkungan dengan berbeda beda suku , membuat kita tertempah jadi sosok yang dapat memaklumi perubahan dan menghargai nya. Selaku perkumpulan pemuda yang berbudaya kita membutuhkan penguatan identitas. Bukan penguatan dengan cara pelabelan, atau rasis, namun penguatan penerapan nilai nilai kebudayaan di dalam kehidupan kita sehari hari terlebih pada kegiatan berorganisasi.

Salam hangat dari saya, salam Habonaron Do Bona. Horas Horas Horas !!!

Pemateri : Riyan Wendi Tambunan, S.Sos

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Tindakan Proaktif Ikatan Mahasiswa Simalungun USU Bergerak untuk Meningkatkan Pendidikan Lokal di desa-desa Simalungun melalui kegiatan IPPS"

  Ikatan Mahasiswa Simalungun Universitas Sumatera Utara (IMAS-USU) berpartisipasi aktif dalam memajukan pendidikan Indonesia khususnya di Kabupaten Simalungun. IMAS-USU merupakan wadah berkumpulnya mahasiswa Simalungun di Universitas Sumatera Utara yang memiliki kepedulian akan pendidikan di Kabupaten Simalungun. Dengan tetap memegang teguh “Ahap” (rasa cinta terhadap Simalungun) serta sadar akan fungsi sebagai mahasiswa, terutama mewujudkan TRIDARMA PERGURUAN TINGGI yakni Pendidikan, penelitian,dan pengabdian masyarakat, IMAS-USU berusaha menjadi fasilitator dan kontrol sosial atas problematika kehidupan masyarakat menuju ke tingkat yang lebih baik lagi dalam bentuk karya nyatanya untuk kemajuan pendidikan. IMAS-USU mencoba menjadi suatu bagian dalam kemajuan pendidikan yang ada di daerah Simalungun. IPPS (IMAS-USU Peduli Pendidikan Simalungun) adalah salah satu program kerja Ikatan Mahasiswa Simalungun Universitas Sumatera Utara yang bergerak di bidang pendidikan. Terdapat d...

Link Drive Kegiatan IMAS-USU 2023/2024

1.       Penerimaan Anggota Baru IMAS-USU 2023 https://drive.google.com/drive/folders/1GM6WTo3PZveuJLtzPseVQp0iddx6AGSN?usp=sharing https://drive.google.com/drive/folders/15thkKaTbmzb6jbvBnwyOcyOIFxCajKpS?usp=sharing 2.       Pekan Olahraga IMAS-USU https://drive.google.com/drive/folders/14Mvt9-azXWUGqCTzcbxUsthFkTQBTywz 3.       Dies Natalis IMAS-USU ke-21 Tahun https://drive.google.com/drive/folders/1PdYfCrxuNQ-v9QxQywaJDaCzDD5K-4aP?usp=sharing 4.       Natal IMAS-USU 2023 https://drive.google.com/drive/folders/1HGnNjQyIiQeRPyDB3ObAgz6fAQrOYjbI 5.       IMAS-USU Peduli Pendidikan Simalungun 2024 https://drive.google.com/drive/folders/18bq7Udx4UHIyr57yVAJDePtD9YJB-qre 6.       Pergelaran Seni dan Budaya Simalungun 2024 https://drive.google.com/drive/folders/1VsyUFpKTiWRyUFOr2O8pehmCvmAOY35J https://drive.google.com/dri...

Diskusi "Partuturan"

 12 Oktober 2023 Partuturan Oleh :  Finy Annie Mara Purba, S.S.I Partuturan adalah bentuk partuturan dalam masyarakat Batak Simalungun untuk menentukan perkerabatan atau keteraturan yang merupakan bagian dari hubungan keluarga (pardihadihaon) dalam kehidupan sosialnya sehari-hari terutama dalam acara adat, bahkan ada juga yang menggunakan partuturan Batak Toba di suku Simalungun. Awalnya orang Batak Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “hasusuran” (tempat asal nenek moyang) dan “tibalni parhundul” (kedudukan/peran) dalam “horja-horja adat” (acara-acara adat). Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan yang diajukan oleh seorang Simalungun di saat orang mereka saling   bertemu, di mana bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga Anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal usul Anda)?” Ada beberapa kategori partuturan;  1) Tutur Manorus/Langsung; sistem perkerabatan yang berhubungan l...