“DAMPAK VIRUS CORONA (COVID-19)
TERHADAP MAHASISWA”
Oleh Helen Laura M Purba
Jumat, 22 Mei 2020
Coronavirus merupakan keluarga besar
virus yang menyebabkan penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit yang
serius seperti MERS dan SARS - Penularannya dari hewan ke manusia (zoonosis)
dan penularan dari manusia ke manusia sangat terbatas (Kemenkes, 2020).
Di Indonesia sendiri, wabah ini menyerang
sejak awal maret. Dan saat ini terdapat 20.162 kasus Positif, 4.838 sembuh dan
1.278 Meninggal (Update Terakhir: 21-05-2020) (Covid-19.go.id).
Wabah
COVID-19 ini telah
mendampaki banyak sektor, seperti sektor rumah tangga, UMKM, usaha mikro,
sektor korporasi, pasar keuangan, perekonomian,
kesehatan, perindustrian, bahkan juga pendidikan.
Kali
ini kita akan membahas dampak covid terhadap mahasiswa. Pandemi Covid-19 di Indonesia membawa sejumlah dampak di sektor
pendidikan, termasuk bagi Perguruan Tinggi. Pemerintah pusat dan daerah telah memberi kebijakan meliburkan seluruh lembaga
pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penularan virus korona.
Akan tetapi pendidikan tidak berhenti begitu saja contohnya, saat ini seluruh
perguruan tinggi menerapkan kuliah online.
Beberapa persoalan mengemuka bagi mahasiswa
di antaranya adalah kuota dan SPP. Kepala LLDikti Wilayah III, Prof. Agus Setyo
Budi menyampaikan "Sesuai data yang kami kumpulkan dari 613 responden di
LLDikti III hal kendala yang dihadapi, 47 persen tentang bantuan kuota internet
dan 21 persen mengenai pembiayaan perkuliahan (SPP)". Bahkan melalui sosial
media, banyak mahasiswa yang mengeluhkan biaya SPP maupun sulitnya kuota serta
jaringan internet, sementara tugas terus menumpuk. Belum lagi banyak pekerjaan
observasi yang tidak bisa di lanjutkan dan akhirnya menunda kelulusan mahasiswa
tersebut.
Dampak negatif :
1. Banyaknya orang
salah mempergunakan waktu belajar online atau kurang memanfaatkan belajar
online, banyak kita temukan waktu belajar online membuka instagram, bermain
game online. Sedangkan E-learning nya dibuka hanya untuk absen saja bukan untuk
membaca materi atau untuk belajar
2. Kalau tidak
adanya bimbingan oleh orang yang ahli maka banyak siswa yang melakukan
pembelajaran tersebut tidak maksimal. mungkin hanya ada 1 target yang ingin
dicapai mahasiswa tersebut,seperti absen. kalau sudah absen ya sudah, tidak ada
upaya nya untuk mencari pembelajaran dalam online tersebut.
3. Kurangnya niat
belajar mandiri seperti ini dapat berdampak pada materi yang tidak dipahami
oleh mahasiswa. Dan saat masuk kembali untuk mengikuti ujian atau pembelajaran
lagi, mahasiswa ketinggalan dan tidak paham dengan materi.
Dampak positif :
1. Kita bisa
mendapatkan materi dengan mudah dan belajar mengevaluasi pembelajaran sendiri
dirumah sesuai keinginan hati kita masing – masing. Sambil tiduran,sambil
makan,sambil bercanda bersama keluarga, Yang pasti sembari menerapkan social
distancing dan tetap menetap dirumah/kos mengikuti anjuran pemerintah.
2. Kita bisa
belajar baik diruangan tertutup ataupun diruangan yang terbuka(Teras
Rumah/Kos), selain itu kita bisa belajar dengan bebas tanpa ada batasan waktu
yang biasa ditetapkan untuk setiap mata kuliah di kampus sehingga kita lebih
mudah untuk memahami materi yang disampaikan oleh dosen tersebut. Kita bisa
mengatur jam belajar kita sesuka hati tanpa terpatok dengan jadwal mata kuliah.
Dalam
bisnis.com di lansir beberapa
kebijakan pemerintah dalam mengadapi corona seperti Dukungan bidang kesehatan
75 triliun, insentif dokter 10-15 juta/bulan, perawat 7,5 juta/bulan, subsidi
biaya listrik, menaikkan anggaran kartu Prakerja dari 10 triliun menjadi 20 triliun,
pembebasan PPh impor untuk sektor tertentu, peringanan agsuran bagi nasabah
KUR, penghematan biaya yang tidak prioritas dan dan penyiapan perpu. Lantas
bagiamana dengan sektor pendidikan yang
seyogianya juga harus diperhatikan.
Pasalnya, tidak semua murid atau
mahasiswa memiliki fasilitas yang memadai. Baik itu gadget,
koneksi internet, atau bahkan listrik. Apalagi, murid dan mahasiswa yang
tinggal di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Terluar) sulit mendapatkan fasilitas
pendukung pembelajaran online.
Kutipan ini saya temukan di beberapa
sosial media dan cukup menarik.
Semua berawal dari corona,
mahasiswa dibuat gundah gulana.
Cita-cita dan harapan tak tahu dibawa kemana
Bahkan kami harus ikhlas berada di rumah saja.
Dengan kuliah online yang berhari hari kami hadapi
Tuan dan puan memberi kami tugas bertubi-tubi
Di tengah pandemi, kuota kami harus
tetap terisi,
Agar bisa menerima materi.
Aku, kami, kau, mereka dan kita semua sedang tidak baik-baik saja.
untuk itu dengarlah suara hati kami,
Suara hati mahasiswa yang sedang tertatih
Kami tidak meminta lebih, berikan keringanan untuk UKT kami,
Orang tua kami bahkan sedang merana karna di PHK.
Barang-barang, harta benda habis membeli sesuap nasi agar tetap bisa berdiri.
Wahai tuan, adakah sedikit hati nurani untuk memahami rintihan kami?
Aku, mahasiswamu meminta belas kasih darimu.
Kuharap jangan ada dusta diantara kita
(Anonim,2020).
-
Nahh, sebagai mahasiswa yang kritis, setujukah kamu
dengan kutipan tersebut?
-
Ditengah pandemik ini, Menurutmu bagaimana mahasiswa
yang positif dan berpikir maju seharusnya bersikap?
Sumber:
https://edukasi.kompas.com: kuota-dan-uang-kuliah-jadi-kendala-mahasiswa- di-tengah-wabah-covid-19
www.unisbank.ac.id/: Dampak viruscoronaterhadapmahasiswa
Tentang virus
corona. Kemenkes (2020).
Covid-19.go.id
https://m.bisnis.com: poin penting kebijakan ekonomi mengahdapi corona.
Komentar
Posting Komentar